kreasindonesia

kreasindonesia adalah blog kedua saya setelah http://reflectionresults.blogspot.com/. Kata ini hasil dari penggabungan kata kreasi dan kata Indonesia. Definisi kreasi adalah hasil daya cipta atau hasil daya khayal. Sebagai bangsa Indonesia, tentunya kita harus mengharumkan bangsa ini lewat kecakapan yang kita miliki. Anda harus berkreasi atau menghasilkan sesuatu sebagai hasil buah pikiran untuk Indonesia. Kenapa? Karena Anda adalah salah satu penduduk bangsa Indonesia!

Daripada Anda menghabiskan waktu untuk menjelek-jelekkan Indonesia, alangkah baiknya bila Anda menciptakan sesuatu untuk Indonesia! Karena perubahan bangsa ini bukan ditentukan dari kata-kata yang jelek atau tidak membangun, tapi dari tindakan yang menghasilkan sesuatu! Untuk itu berkreasilah untuk Indonesia. Inilah definisi dari kreasindonesia.

Saya tidak bisa menciptakan sesuatu yang dapat mengubah Indonesia secara langsung. Tetapi setidaknya, saya berusaha menciptakan cara pandang yang baru tentang Indonesia. Untuk itulah blog kreasindonesia dibuat! Selamat Membaca, Selamat berkreasi!
Tampilkan postingan dengan label Kebenaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebenaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

Udah Ruwet, Masih GolPut?

Menjelang Pemilu 2014 yang akan dilaksanakan dua kali yaitu Pemilu Legislatif (PiLeg) pada tanggal 9 April 2014 dan Pemilu Presiden (PilPres) pada tanggal 9 Juli 2014 , sering terdengar kata GolPut.

Istilah GolPut muncul pertama kali menjelang pemilu pertama zaman Orde Baru tahun 1971. Pemrakarsa sikap untuk tidak memilih itu, antara lain Arief Budiman, Julius Usman dan almarhum Imam Malujo Sumali. Langkah mereka didasari pada pandangan bahwa aturan main berdemokrasi tidak ditegakkan, cenderung diinjak-injak.[1]

Kata GolPut itu sendiri adalah sebuah singkatan dari Golongan Putih. Makna inti dari kata GolPut ini adalah sikap untuk tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu karena berbagai macam alasan.

Biasanya kaum GolPut  melakukan tiga sikap:
1. Menusuk lebih dari satu partai.
2. Menusuk area putih dalam lembar kartu suara.
3. Sama sekali tidak datang ke tempat pemilihan suara (TPS).

Mereka yang GolPut sebagian besar menganggap para penyelenggara negara dan partai-partai yang ada tidak menyuarakan dan pro-kebaikan berpolitik. Jadi, daripada memilih partai yang ada lebih baik tidak memilih siapa pun. Anggapan mereka, partai-partai yang ada akan berperilaku buruk pula bila memenangkan pemilu. GolPut bukanlah organisasi yang diatur oleh instrumen peraturan. Itu juga tidak dikoordinasi melalui sistem manajemen. Golput sekadar penyebutan kepada akumulasi pribadi-pribadi yang tidak ikut pemilu atau ikut pemilu tetapi dengan cara merusak surat suara (salah satu cara). Mereka tidak mengenal satu sama lain dan biasanya tidak dikenali, bahkan oleh orang yang terdekat, sekalipun. Tentu saja, ada beberapa orang yang berani mendeklarasikan dirinya adalah GolPut.[2]

Jadi mereka yang GolPut, adalah mereka yang dengan sengaja dan sadar menolak memberikan suara dalam pemilu, baik dalam PiLeg ataupun PilPres.

Saya sebagai penulis blog kreasindonesia tidak setuju dengan sikap GolPut tersebut. Saya ingin seluruh rakyat Indonesia mengerti betapa pentingnya turut serta dalam Pemilu 2014 ini. Kenapa? Coba Anda bayangkan keadaan Indonesia sekarang ini. Dari segi pendidikan, ekonomi, sosial, politik, kerukunan umat beragama, dll. Sangat kompleks bukan?

Saya sangat yakin, pasti banyak orang yang menyalahkan keadaan ini kepada pejabat-pejabat yang tidak bertanggung jawab serta mereka yang korupsi. Apakah mereka salah? Benar! Bila mereka tidak bertanggung jawab dan korupsi. Namun bila kita renungkan sejenak, mereka ada di kursi pemerintahan kira-kira karena siapa? Apakah dengan sendirinya mereka langsung dapat duduk di kursi pemerintahan? Saya kira tidak! (kecuali ada permainan dalam hal ini) Mereka bisa berada di sana, karena kita yang memilih. Jadi seharusnya kita yang memilih harus lebih cerdas untuk mencari tahu informasi mengenai CaLeg atau CaPres tersebut. Zaman sudah maju, kita bisa menggunakan media internet sebagai sumber informasi.

Untuk yang GolPut malah lebih membuat keadaan semakin kompleks. Karena mungkin dengan adanya GolPut akan memancing oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memakai kartu pemilih yang tidak dipakai kaum GolPut.

Ada yang berkata GolPut berarti menyerah, saya pikir ada benarnya! Karena dengan GolPut berarti kita menyerah dengan keadaan, dan bila keadaan negara semakin kompleks, tinggal mencari kambing hitam untuk disalahkan. Menyerah dengan keadaan berarti kalah sebelum berperang. Dan orang seperti ini tidak bertanggung jawab. Lalu apa bedanya dengan pejabat yang tidak bertanggung jawab? Sama-sama tidak bertanggung jawab bukan?

Maksud saya, alangkah baiknya bila seluruh rakyat Indonesia turut serta dalam pemilu 2014 ini, karena negara ini semakin maju atau tidak tergantung tanggung jawab dari “si pemilih” dan “si yang dipilih”.  Jadi kita sama-sama bertanggung jawab. Bila ada masalah kedepannya, kita sama-sama mencari solusinya.

Sila pertama dari pancasila adalah KETUHANAN YANG MAHA ESA. Berarti Indonesia mengakui atau beriman bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa. Tentunya iman itu akan sempurna bila disertai dengan perbuatan. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Percuma bila kita berdoa supaya Indonesia pulih, tapi kita sendiri tidak mau mengambil andil untuk pemulihan tersebut!

Ingatlah, bila ada satu pejabat yang korupsi, bukan berarti Anda berhak memberi "label korupsi" kepada pejabat yang lain! Bila ada satu pejabat yang tidak bertanggung jawab, bukan berarti Anda berhak memberi "label tidak bertanggung jawab" kepada pejabat yang lain! Masih banyak pejabat dan calon pejabat yang jujur dan bertanggung jawab. Mungkin mereka tidak terlalu diekspos atau tidak diperhatikan karena kita sudah tutup mata terlebih dahulu.

Bukalah mata Anda sekarang, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang CaLeg dan CaPres. Pilihlah orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab.





[1] http://www.ppkdander.org/2012/10/pengertian-golput-dalam-pemilu.html
[2] http://politik.kompasiana.com/2013/12/07/golput-adalah-bentuk-perlawanan-diam-614467.html

Kamis, 14 November 2013

Buang-Buang Makanan = Buang-Buang Anugerah Tuhan



Masih suka heran dengan orang yang doyan banget buang-buang makanan. Saya sering melihat hal ini. Suatu hari saya makan di tenda seafood Ayu. Kalau ada yang tinggal di Sunter atau Kelapa Gading, pasti mengetahui tempat ini. Seafood Ayu memang cukup terkenal. Saya sedang makan dengan mami saya. Saat itu, saya melihat meja sebelah dengan udang yang masih banyak. Bahkan bisa dibilang belum disentuh sama sekali. Rasanya kesal melihat hal itu.

Di hari yang lain, saya makan kwetiau Akang. Bila Anda tinggal di Sunter, Kelapa Gading, Mangga Besar dan daerah sekitarnya, pasti juga tahu tempat makan ini. Saya sedang makan dengan koko saya. Saat itu ada sekumpulan anak muda yang sedang makan. Biasanya anak muda suka ribut kalau sedang makan. Karena mereka sambil bercanda. Setelah kumpulan anak muda itu pulang, saya melihat masih ada satu piring kwetiau yang masih full. Seperti belum tersentuh sama sekali. Rasanya ingin mengambil kwetiau itu, lalu langsung saya makan!

Saya juga pernah melihat dua pasang orang muda sedang bertengkar dalam waktu dan tempat yang berbeda. Anehnya, setelah bertengkar mereka meninggalkan makanan itu. Ayam KFC masih belum tersentuh dan Burger McD juga belum tersentuh. Hati kecil berkata, “berantem-berantem aje, makanan ga usa dibuang juga kale!”

Bahkan saya juga sering melihat orang-orang yang kondangan membuang makanan yang masih banyak di piringnya. Lucunya, setelah itu mereka ambil makanan yang lainnya. Di sisi lain, saya juga pernah melihat orang yang kalau makan suka tidak habis, jadi otomatis dia buang sisa makanannya. Padahal dia bisa membungkus makanan itu, dan makan lagi saat lapar. Atau paling tidak, kita dapat mengambil makanan seperlunya, karena diri kita yang paling tahu tentang kapasitas perut kita.

Terkadang orang yang membuang makanan merasa ada hak untuk membuang makanan tersebut, karena merasa sudah membayarnya. Jadi, makanan itu sudah menjadi miliknya, dan dia berhak untuk memakan atau membuangnya. Saya pikir, ini adalah salah satu pembodohan yang sedang terjadi. Karena pada dasarnya, kita sama sekali tidak ada hak untuk membuang makanan. Kita bisa makan, bukan karena kita lebih hebat dari orang lain yang tidak bisa makan. Tapi karena anugerah dari Tuhan. Memang kita sudah bekerja keras untuk hal itu. Namun jangan lupa, bila Tuhan tidak memberkati penghasilan dan makanan kita. Maka kita pun tidak akan dapat menikmatinya!

Walaupun ini terdengar klise, tapi hal ini harus dipahami dengan baik! Bahwa MASIH BANYAK ORANG YANG KELAPARAN!

Facebook Forum Hijau Indonesia membuat suatu artikel yang bertuliskan seperti ini, “Makanan yang terbuang merugikan ekonomi dunia senilai $750 miliar/Rp8,5 triliun per tahun ...”[1]  Ironis sekali, padahal masih banyak negara yang mengalami kelaparan. Salah satunya adalah negara Indonesia! Indonesia menduduki peringkat ke-11 dari yang paling parah. Tepatnya, ada 12,6 juta orang di Indonesia yang kekurangan gizi![2] Sudah seharusnya kita lebih memerhatikan hal ini. Bila Anda pernah membuang makanan atau memang hobi menyisakan makanan lalu dibuang, pikirkanlah 12,6 juta orang yang masih kekurangan gizi karena kelaparan di Indonesia.

Buanglah makanan, bila makanan tersebut sudah tidak layak dikonsumsi lagi (basi). Tetapi renungkanlah, kenapa makanan tersebut bisa sampai basi?

Orang yang suka buang makanan adalah orang yang tidak menghargai hasil jerih payahnya sendiri, tidak menghargai orang-orang yang kelaparan dan tidak menghargai anugerah Tuhan!





[1] https://www.facebook.com/ForumHijauIndonesia/posts/512489208842181
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Kelaparan

Jumat, 08 November 2013

Pengaruh kata “mempengaruhi”



Tanpa disadari, acap kali kita sering dipengaruhi dengan kata “mempengaruhi”. Padahal kata “mempengaruhi” tidak memiliki pengaruh apa pun dalam tata bahasa Indonesia, karena kata “mempengaruhi” tidak memiliki arti sama sekali. Sebagai bangsa Indonesia, sudah seharusnya kita tidak dipengaruhi lagi dengan kata “mempengaruhi”. Namun kenyataan berbicara sebaliknya! Kata “mempengaruhi” sudah memengaruhi sebagian besar orang Indonesia (termasuk saya tadinya). Banyak buku dan artikel yang masih memakai kata “mempengaruhi”. Kata ini memang memiliki pengaruh yang kuat!

Saya akan beri beberapa contoh buku dan artikel yang masih dipengaruhi dengan kata “mempengaruhi”.

1. Buku: 
 http://books.google.co.id/books?id=CsmRAAAAMAAJ&q=mempengaruhi&dq=mempengaruhi&hl=en&sa=X&ei=pJV8UtjpFoe3rAfuw4DQCA&redir_esc=y


2. Kamus Online:


3. Buku:


4. Detik News:


5. Artikel:



6. Bahkan saya pun pernah salah! 
Saya pernah beberapa kali menulis di blog dengan memakai kata “mempengaruhi”:


7. Google Translate. 
Kata "Influence" diterjemahkan menjadi kata "mempengaruhi":


Mungkin Anda berkomentar, memang apa salahnya memakai kata “mempengaruhi”? Toh yang penting kita mengerti maksud dari kata tersebut. Pada dasarnya, sesuatu yang salah bila kita lakukan terus-menerus, maka hal itu akan menjadi “benar”. Namun, “benar” bagi kita, belum tentu benar dalam arti sebenarnya. Untuk itu, kita harus membela kebenaran dengan memakai kata yang benar! Pakailah kata MEMENGARUHI, bukan MEMPENGARUHI!

Ingatlah salah satu isi Sumpah Pemuda yang baru kita peringati kemarin ini. “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Kata “mempengaruhi”, bukan kata dalam bahasa Indonesia. Bila seperti itu, untuk apa kita menggunakannya lagi?

Puji Tuhan, saya sedang belajar untuk tidak memakai kata “mempengaruhi” lagi. Bagaimana dengan Anda?



Kata “mempengaruhi” tidak memiliki pengaruh apa pun, 
bila kita belajar memakai kata”memengaruhi”.






________________

Sumber : 
1. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat.

Rabu, 30 Oktober 2013

Menerima Pujian = Menghargai Karya Sendiri


Sebenarnya saya sudah lama ingin membahas hal ini. Tetapi sering lupanya (hahaha ...). Kemarin, saya mengalami tentang hal ini, tentang menerima pujian. Kira-kira kejadian singkatnya seperti ini, Saya broadcast di whatsapp tentang tulisan-tulisan saya, yang ada di blog http://reflectionresults.blogspot.com. Setelah itu, teman saya berkomentar:

Teman  : Aku udah baca tadi kak, bagus ... tulisan kakak?
Saya     : Iya dunn tulisanku ;) Itu blogku.
Teman  : Orang mah dipuji, ngerendah gitu ya.. "ga, biasa aja kok"
              Ini mah, "iya dunn tulisanku"Hahahaha ... tapi bagus-bagus, lanjutkan!
Saya     : Harus belajar menerima pujian dunnn :D
Teman  : Hahahaha ... Okee ...

Bila Anda diperhadapkan hal yang sama, lalu Anda bersikap seperti saya, kemungkinan teman Anda berkomentar, "sombong amat nih anak!" Atau, "nyesel gue muji elo!"

Saya tahu persis, kita lahir di Indonesia yang budaya Timurnya masih melekat banget. Budaya Timur acap kali mengajarkan kepada kita untuk lebih santun. Sehingga bila dipuji, kebanyakan orang akan berkata, "ah enggak ... biasa-biasa aja kok." Atau ada orang-orang yang lebih rohani berkata, "ah, ini semua karena Tuhan, saya hanya alatNya saja."  Biasanya mereka yang berkata seperti itu, karena tidak mau dikatakan sombong oleh orang lain.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Namun kita juga harus sadar, bahwa kita memang layak menerima pujian tersebut, karena kita sudah bekerja keras untuk hal itu. Lagipula, bila kita dipuji oleh seseorang, berarti hal yang kita lakukan bukan “biasa-biasa aja” tapi “luar biasa!” Sehingga kita layak menerima pujian.

Bila kita selalu bilang “biasa-biasa aja” , tanpa disadari kita telah berbohong kepada diri sendiri dan orang yang memuji kita, serta sekaligus merendahkan diri kita. Ingat, rendah diri bukan rendah hati! Tentunya, sikap rendah diri atau minder itu tidak baik.

Dalam hal yang memang kita tidak layak menerima pujian, barulah kita mengatakan “biasa-biasa aja”. Saya pernah dipuji, saat saya sedang bermain gitar dan drum, biasanya yang memuji itu orang yang baru kenal dengan saya. Sebenarnya, saya tidak layak menerima pujian tersebut, karena permainan gitar dan drum saya, sayalah yang paling tahu. Nah, ini baru layak dibilang “biasa-biasa aja”. Kenapa? Sederhana! Karena memang biasa banget! Bahkan tidak berkembang. Saya pun memang tidak melatihnya secara khusus, jadi saya tidak layak menerima pujian dalam bidang musik. Paling yang layak dipuji, adalah pada saat saya BERANI tampil dengan bermain gitar atau drum. Jadi yang dipuji adalah keberaniannya, bukan permainannya.

Sederhananya, bila Anda memang merasa layak mendapatkan pujian, lalu ada orang yang memuji Anda ... Terimalah pujian tersebut dengan sukacita! Anda telah berusaha keras untuk hal tersebut! Anda layak menerima pujian!



Tidak menerima pujian = Tidak menghargai karya sendiri!

Senin, 28 Oktober 2013

Aku Peduli



Video ini sangat menginspirasi rakyat Indonesia. Saya ambil video ini dari http://www.youtube.com/user/EspiraTV?feature=watch 

Siapa pun yang buat video ini bener-bener kreatif! 
Inilah salah satu karya anak bangsa yang peduli terhadap bangsa Indonesia.
Putar yuk videonya! Lebih bagus lagi kalau menonton video ini menggunakan suara.

Untuk yang tidak bisa play videonya, saya copas kata-katanya:

Aku peduli.
Tapi masa depan bangsaku.
Itu bukan yang paling penting buat aku.
Duit banyak
Hidup senang
Posisi
Jauh lebih penting dari
Keadilan
Integritas
Moral
Aku yakin dan pasti
Ada harapan.
Negaraku masih menjunjung moral yang tinggi.
Tapi itu gak bakal bertahan
Nafsu lebih dinomor-satukan.
Trend menunjukkan
Anak cucu kita akan menuai kebobrokan kita.
Aku nggak percaya
Indonesia akan tetap jaya.
Memandang ke depan, aku melihat
"Degradasi moral melanda anak muda"
"Kawin cerai, apa salahnya?"
"Korupsi udah jadi budaya"
"Video mesum, itu mah biasa"
Nggak bisa dibilang lagi
Masih ada yang peduli akan bangsa ini.
Udah jelas banget
Generasi ini udah hancur dan gak ada harapan.
Sungguh sedih dan konyol kalo kita pikir
Kita BISA menjadikan dunia ini lebih baik.



Setelah baca dari atas ke bawah, baca lagi dari bawah ke atas!
Mulailah berkreasi untuk bangsa ini!

Salam #kreasindonesia

Jumat, 25 Oktober 2013

Doktrin Sampah



Buanglah sampah pada tempatnya! Kata-kata ini sering kita lihat dan dengar. Tetapi masih banyak orang yang cuek akan hal ini. Padahal buang sampah pada tempatnya adalah hal sederhana, namun masih banyak orang terpelajar yang tidak melakukannya. Bahkan yang lebih sering buang sampah sembarangan adalah orang tua. Mungkin mereka mengajarkan kepada anak-anaknya tentang buang sampah pada tempatnya, namun sering kali tindakannya tidak mencerminkan nasihatnya. Sehingga seorang anak juga bingung, di mana dia harus buang sampah? Jadi, jangan heran kalo suatu hari nanti, anak tersebut atau anak Anda, akan buang sampah sembarangan!

Sebenarnya sudah banyak artikel yang kontennya memuat tentang buang sampah pada tempatnya, namun banyaknya artikel, tidak sebanding dengan perbuatan masyarakatnya. Sehingga artikel tersebut hanya lalu begitu saja.

Salah satu penyebab banjir di Jakarta ini, adalah karena tidak optimalnya fungsi waduk maupun situ. Dalam catatan Pengamat tata kota, yang bernama Nirwono Joga mengatakan bahwa, pada tahun 1990-an, Jakarta memiliki 70 waduk dan 50 situ. Namun, kini hanya tersisa 42 waduk dan 16 situ. Sebanyak 50 persen di antaranya pun tidak berjalan optimal. Waduk-waduk di Jakarta dipenuhi tumbuhan enceng gondok, limbah, dan sampah. Pendangkalan pun terjadi akibat sedimentasi lumpur. Waduk yang akhirnya mengering kemudian dijadikan daerah hunian.[1] Jadi, salah satu penyebab banjir adalah sampah!

Saya pernah diceritakan suatu percakapan tentang hal di atas. Suatu hari, ada dua wanita yang sedang dalam perjalanan. Mereka naik mobil pribadi. Wanita yang A ingin buang sampah, akhirnya dengan wajah tanpa dosa, ia buka kaca mobil, lalu langsung ingin buang sampah tersebut. Sontak wanita B menegurnya, melihat temannya itu ingin buang sampah sembarangan. Bahkan saat itu, mereka sedang di jalan tol. Wanita B langsung mengatakan, “jangan buah sampah sembarangan! Nanti Jakarta banjir!” Wanita A berkata, “Jakarta enggak akan banjir dengan satu sampah yang gue buang!” Saya lupa kelanjutan dari cerita tersebut, kemungkinan besar wanita A tetap membuang sampah tersebut di jalan tol. Namun percakapan singkat itu sangat menarik. Percakapan itulah yang menjadi motivasi saya untuk membuat artikel ini.

Coba Anda bayangkan, menurut Anda, apakah pernyataan wanita A benar? Bahwa, sampah yang dia buang tidak akan menyebabkan Jakarta banjir? Saya pikir, wanita A ini benar! Jakarta tidak mungkin banjir dengan sampah yang dia buang. Apalagi hanya bekas bungkus makanan saja. Kota Jakarta terlalu besar untuk sampah yang kecil itu. Tidak mungkin sampah yang kecil itu memengaruhi kota Jakarta. Jika seperti itu, lalu untuk apa kita buang sampah pada tempatnya?

Coba kita memakai logika. Blog saya yang berjudul http://reflectionresults.blogspot.com/ pengunjungnya ±100 dalam sehari. Bila saya menghimbau mereka lewat artikel dengan judul , “jangan buang sampah sembarangan!” Pasti, sedikit banyak ada yang terpengaruh untuk buang sampah pada tempatnya (kalo punya hati sih! Hehehe …). Asumsikan yang terpengaruh adalah setengahnya. Berarti ada 50 orang yang akhirnya buang sampah pada tempatnya. Pertanyaannya, apakah 50 orang yang buang sampah pada tempatnya akan mencegah kebanjiran? Dengan lantang saya berkata, “TIDAK AKAN!” 50 orang yang buang sampah pada tempatnya juga tidak akan mencegah kebanjiran! Karena 50 orang masih sedikit dengan jumlah penduduk di Jakarta.

Jumlah penduduk di Jakarta sebanyak ± 9,607,787 jiwa. Ini data tahun 2010.[2] Sembilan juta lebih, dengan 50 orang yang coba saya pengaruhi untuk buang sampah pada tempatnya, tidak akan membuat perubahan yang signifikan. Jakarta tetap akan banjir! Jakarta tetap akan kotor! Mungkin Anda bertanya-tanya, lalu untuk apa artikel ini membahas tentang buang sampah pada tempatnya?

Saya coba menyederhanakan hal ini. Pada kenyataannya, bila Anda disiplin buang sampah pada tempatnya, Jakarta tetap akan banjir. Karena Anda hanya terdiri dari satu individu. Satu individu tidak akan bisa langsung mengubah satu kota, tetapi satu individu dapat memengaruhi satu keluarga; satu keluarga dapat memengaruhi satu RT; satu RT dapat memengaruhi satu RW; satu RW dapat memengaruhi satu kelurahan; satu kelurahan dapat memengaruhi satu kecamatan; satu kecamatan dapat memengaruhi satu kota!

Untuk itulah, sebarkan hal ini kepada banyak orang. Tanamkan doktrin sampah ini (buang sampah pada tempatnya), kepada diri Anda terlebih dahulu! Sehingga Anda juga disiplin untuk buang sampah pada tempatnya. Setelah itu, pengaruhi orang-orang disekeliling Anda. 

Satu sampah tidak akan mencegah kebanjiran, tetapi satu sampah dapat memberi teladan bagi orang di sekitar Anda! Tentu, dampaknya akan sangat besar, bila dilakukan dengan sepenuh hati!

Berkreasi tidak harus menciptakan sesuatu yang besar, berkreasi dapat dimulai dari hal kecil, salah satunya adalah dengan menciptakan budaya buang sampah pada tempatnya!


________________________________________

[1] http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/22/1053289/Ini.4.Penyebab.Banjir.Jakarta
[2] http://jakarta.bps.go.id/index.php?bWVudT0yMzA0JnBhZ2U9ZGF0YSZzdWI9MDQmaWQ9MTE=

Kamis, 24 Oktober 2013

Penghujat Koruptor = Koruptor





Melihat berita di TV beberapa tahun ini, membuat saya sangat sedih sekali. Karena banyak koruptor, yang ternyata adalah pejabat negara, yang seharusnya menuaikan tugasnya untuk bangsa dan negara. Koruptor tersebut antara lain adalah: Agusrin Najamudin (Koruptor Partai Demokrat), Amrun Daulay (Koruptor Partai Demokrat), Angelina Sondakh (Koruptor Partai Demokrat), Aulia Pohan (Koruptor Besan Presiden SBY).[1] Tentu masih banyak nama-nama koruptor lainnya lagi.

Bahkan pada PEMILU tahun 2009 lalu, Partai Demokrat membuat iklan yang mendengungkan perlawanan terhadap korupsi. Kontennya membuat pernyataan “Katakan tidak pada korupsi”. Sekian tahun berselang, tagline yang dibanggakan menjadi bumerang. Sejumlah kader tersandung kasus korupsi, bahkan ada dari mereka yang pernah membintangi iklan ini dan dengan lantang berkata, "Katakan tidak pada korupsi!".[2]

Saya pun pernah mendengar dari seorang yang pernah pelayanan di penjara, bahwa para koruptor yang masuk penjara tidak kapok akan perbuatannya. Mereka tidak rela uangnya dikembalikan pada negara.

Tindakan koruptor benar-benar merusak bangsa dan negara. Raykat miskin yang seharusnya diperhatikan oleh pejabat negara, malah dibiarkan. Pengangguran bertambah. Tentu banyak orang yang kesal dengan hal ini, sehingga acap kali Anda (mungkin) mengeluarkan kata-kata yang kotor. Hal ini sangat wajar, karena Anda sangat kecewa atas tindakan para pejabat negara tersebut. Kata makian seperti: bego, goblok, tolol, tikus got, dll., sering dilontarkan untuk menghujat para koruptor tersebut. Rasanya, memang mereka pantas mendapatkan hujatan dari banyak orang!

Namun pernahkah Anda berpikir, bahwa tindakan Anda yang menghujat para koruptor pun, juga tidak menyelesaikan masalah? Bahkan kemungkinan besar akan menimbulkan masalah yang baru. Tentu tindakan seperti ini juga tidak membangun negara, sama seperti tindakan koruptor yang tidak membangun negara. Bila seperti itu, apa bedanya Anda dengan koruptor? Sama saja ‘kan?

Tentu Anda yang menghujat koruptor tidak ingin disamakan dengan para koruptor tersebut. Ya, saya tahu hal ini. Namun, seperti yang sudah saya katakan di atas, bahwa bila Anda hanya menghujat para koruptor, tindakan Anda juga tidak membangun negara ini. Artinya, berhentilah menghujat! Dan lakukanlah sesuatu untuk negara ini! Hal sekecil apa pun untuk membangun negara ini sangatlah berarti, dibanding duduk di depan TV, lalu menghujat para koruptor tersebut!

Bila Anda ingin terjun di dunia politik, buatlah perbedaan seperti Jokowi dan Ahok! Mereka adalah teladan yang patut dicontoh, karena mereka benar-benar bekerja untuk DKI Jakarta.

Buatlah sesuatu! Ciptakanlah lapangan pekerjaan! Berkreasilah sesuai dengan minat dan bakat Anda! Berhentilah menghujat para koruptor! Berkreasilah untuk Indonesia! 




Tindakan koruptor, tidak membangun negara. 
Menghujat koruptor pun tidak membangun negara!


____________________

[1] http://1000tokoh.wordpress.com/category/daftar-koruptor-indonesia/
[2] http://nasional.kompas.com/read/2013/02/22/23133537/Mereka.yang.Pernah.Katakan.Tidak.pada.Korupsi