kreasindonesia

kreasindonesia adalah blog kedua saya setelah http://reflectionresults.blogspot.com/. Kata ini hasil dari penggabungan kata kreasi dan kata Indonesia. Definisi kreasi adalah hasil daya cipta atau hasil daya khayal. Sebagai bangsa Indonesia, tentunya kita harus mengharumkan bangsa ini lewat kecakapan yang kita miliki. Anda harus berkreasi atau menghasilkan sesuatu sebagai hasil buah pikiran untuk Indonesia. Kenapa? Karena Anda adalah salah satu penduduk bangsa Indonesia!

Daripada Anda menghabiskan waktu untuk menjelek-jelekkan Indonesia, alangkah baiknya bila Anda menciptakan sesuatu untuk Indonesia! Karena perubahan bangsa ini bukan ditentukan dari kata-kata yang jelek atau tidak membangun, tapi dari tindakan yang menghasilkan sesuatu! Untuk itu berkreasilah untuk Indonesia. Inilah definisi dari kreasindonesia.

Saya tidak bisa menciptakan sesuatu yang dapat mengubah Indonesia secara langsung. Tetapi setidaknya, saya berusaha menciptakan cara pandang yang baru tentang Indonesia. Untuk itulah blog kreasindonesia dibuat! Selamat Membaca, Selamat berkreasi!
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 April 2014

Menjilat Ludah Sendiri



Banyak orang berpendapat tentang definisi dari pepatah menjilat ludah sendiri. Ada yang mengatakan:  Menarik kembali apa yg sudah dibuang keluar, dia yang menuliskan, dia juga yang menghapus, dia yang menjaga, dia juga yang melanggar, meminta kembali sesuatu yang telah diberikan, dll. Wikiquote mendefinisikan pepatah menjilat air liur (ludah) sendiri:[1]
  1. Meminta kembali hal atau barang yang telah diberikan kepada orang lain.
  2. Menerima kembali sesuatu yang dahulu pernah ditolak.
  3. Orang yang tidak tahu malu.

Jadi pada intinya, pepatah menjilat ludah sendiri adalah menarik atau mengambil kembali sesuatu yang pernah diberikan kepada orang lain, baik dalam berupa kata-kata ataupun benda. Tentu banyak yang tidak suka dengan orang seperti itu. Namun definisi menjilat ludah sendiri yang saya maksud dalam artikel ini adalah menarik kata-kata yang pernah kita keluarkan.

Pernahkah Anda berpikir kritis tentang hal ini?
Jika kita tidak pernah menjilat ludah sendiri atau tidak pernah menarik kata-kata yang kita keluarkan, berarti kita tidak pernah belajar tentang suatu hal. Contoh:
Contoh Pertama. Tejo berkata kepada temannya, bahwa ia tidak akan pernah membeli komputer. Seiring waktu berjalan, teknologi semakin canggih. Tejo yang tadinya duduk di bangku SMP berjanji tidak akan pernah membeli komputer, akhirnya ia membeli juga karena sekarang ia kuliah dan membutuhkan seperangkat komputer untuk membantunya. Temannya berkata, bahwa Tejo menjilat ludahnya sendiri. Memang benar Tejo menjilat ludahnya sendiri, karena ia menarik kata-kata yang pernah dikeluarkan. Tetapi Tejo belajar hal baru, bahwa ternyata komputer sangat penting di zaman yang serba modern sekarang ini.

Contoh Kedua. Satu lembaga pernah mengeluarkan tiga peraturan untuk mendisplinkan anggota-anggota dalam lembaga tersebut. Beberapa bulan kemudian, akhirnya lembaga itu menarik dua dari tiga peraturan yang sudah pernah dibuatnya. Lembaga tersebut menjilat ludahnya sendiri, karena ia menarik dua peraturan yang pernah dikeluarkan. Tetapi lembaga tersebut belajar hal baru, bahwa ternyata dua peraturan tersebut sudah tidak relevan lagi dengan situasi kondisi dari lembaga tersebut di zaman sekarang ini.


Kedua contoh di atas membuktikan, bahwa dalam kehidupan terkadang memang kita harus menjilat ludah sendiri untuk dapat belajar hal yang baru, yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita. Namun di sisi lain, kita juga harus belajar berpikir dulu sebelum berbicara, sehingga tidak selalu menjilat ludah sendiri terus-menerus, karena bagaimanapun juga... ludah itu tidak enak rasanya! Hehehehe...


_____________________________________________
[1] http://id.wikiquote.org/wiki/Menjilat_air_liur_sendiri

Senin, 16 Desember 2013

#DREAMSbook available!

Hari yang dinantikan telah tiba!

Salah satu anak bangsa Indonesia telah menelurkan satu buku!

Buku yang diawali dari mimpi dan menjadi kenyataan!

Buku untuk para pemimpi yang ingin mewujudkan mimpinya!

Buku yang akan membuat Anda tetap semangat untuk mewujudkan mimpi, sekalipun bertemu dengan tembok kegagalan!

Buku yang akan membuat Anda menjadi kreatif, inovatif, dan realistis!

Buku yang setiap babnya bersifat afirmatif!

Buku yang tidak hanya membahas orang-orang terkenal, melainkan membahas orang-orang biasa yang memiliki mimpi luar biasa dan berusaha mewujudkan mimpinya!

Buku yang juga membahas pengalaman pribadi penulis dalam usaha mewujudkan mimpinya!

Buku yang mengambil nilai-nilai kehidupan berdasarkan firman Tuhan!



this is it!



Desire Responsibility Education Ability Maturity Spirituality




Kata mereka tentang buku DREAMS:


Pdp. Ir. Hendy Kasidi
Sahabat Pao

"Buku DREAMS wajib jadi bacaan para pendaki tebing sukses. Untuk bisa sampai ke puncak, tidak cukup persiapan seadanya, namun harus membangun 6 kelengkapan dengan tekun dan disiplin. Pao telah menyajikannya secara apik nyaris tanpa cacat, mudah ditangkap, tidak membosankan, dan sangat mengobarkan semangat untuk mencobanya. Kendati ini baru buku perdananya." 






Pdp. Karmelia Suryanto Komala, S.E., M.Div
Wakil I Gembala Jemaat Gereja Bethel Indonesia Jemaat 'AlBerTa'

"Sering kali mimpi-mimpi kita berkisar tentang hal-hal yang besar, hebat, dan spektakuler. Namun, kita tidak pernah memulainya, apalagi berhasil mewujudkannya. Buku ini 'menyentil' kita untuk mulai memerhatikan hal-hal kecil di sekitar kita, yang mendorong kita untuk memulai bahkan, tidak mustahil, mewujudkan mimpi-mimpi kita. Diperlengkapi dengan contoh yang diambil dari kisah tokoh-tokoh di Alkitab."




Josua Iwan Wahyudi
Master Trainer EQ Indonesia   |   www.josuawahyudi.com   |   @josuawahyudi


"Saya pikir masih jarang sekali seorang anak muda yang menuliskan pesan mendalam untuk generasi sejamannya. Paulus memiliki pemikiran yang 2 kali lebih "tinggi" dari rekan-rekan seusianya. Membaca buku ini menjadi mutlak dan wajib untuk siapapun yang mau hidup melebihi orang biasa!"








Marcella Flaorenzia, S.Th.
Penulis Buku : Radical For Jesus, The Matter Of Heart, SHE (Single Happy Excellent) dan Our Love Story.


"Buku ini membuat saya merasa tertantang untuk terus bermimpi, dan memberi saya semangat untuk mulai menggali kembali setiap mimpi yang selama ini mungkin sempat terkubur. Saya percaya Tuhan sudah memberikan setiap kita talenta dan potensi untuk kita kembangkan. Ia ingin memakai kehidupan kita untuk menjadi kesaksian serta berkat bagi orang lain. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan. Buku ini adalah salah satu bukti bagaimana Tuhan menyertai seorang Paulus Igunata Sutedjo dalam mewujudkan mimpinya. Dan saya percaya enam hal yang dibahas di dalam buku ini akan membantu Anda dalam mewujudkan mimpi-mimpi Anda di dalam Tuhan. It's a great book!"

Harison Jannes Ompusunggu, S.Th.
Penulis Buku 100 Renungan Doa dan Penulis tetap di Renungan Harian Manna Sorgawi.


"Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya mimpi, serta memberi kita cara-cara praktis untuk mewujudkan mimpi tersebut. Judulnya sangat menarik, DREAMS, yang berarti mimpi-mimpi. Tetapi itu juga sekaligus merupakan akronim dari Desire, Responsibility, Education, Ability, Maturity, Spirituality. Inilah enam hal yang harus kita miliki agar dapat mewujudkan mimpi-mimpi kita. Pembahasan buku ini dilakukan secara sistematis, namun praktis dan enak dibaca. Buku ini juga disertai dengan contoh-contoh praktis dari orang-orang yang telah berhasil meraih mimpi-mimpi mereka, termasuk tokoh-tokoh yang ada di Alkitab. Selain itu, penulis buku ini juga menceritakan pengalamannya sendiri dalam meraih mimpi-mimpinya. Saya sangat diberkati dengan pembacaan buku ini, Buku ini memotivasi saya untuk semakin sungguh-sungguh lagi dalam mewujudkan mimpi-mimpi saya yang belum terealisasi selama ini. Saya percaya, Anda pun pasti diberkati melalui pembacaan buku ini, dan semakin termotivasi untuk meraih mimpi-mimpi Anda."





Sekarang giliran Anda untuk membaca buku ini, 
sehingga Anda juga termotivasi untuk mewujudkan mimpi Anda sendiri!

Harga promo Rp.38.000,-  (belum ongkir)
langsung contact saya di: 0818 08 326 818

Harga normal Rp.42.600,- (belum ongkir)
dapat dibeli di: 







Kamis, 14 November 2013

Buang-Buang Makanan = Buang-Buang Anugerah Tuhan



Masih suka heran dengan orang yang doyan banget buang-buang makanan. Saya sering melihat hal ini. Suatu hari saya makan di tenda seafood Ayu. Kalau ada yang tinggal di Sunter atau Kelapa Gading, pasti mengetahui tempat ini. Seafood Ayu memang cukup terkenal. Saya sedang makan dengan mami saya. Saat itu, saya melihat meja sebelah dengan udang yang masih banyak. Bahkan bisa dibilang belum disentuh sama sekali. Rasanya kesal melihat hal itu.

Di hari yang lain, saya makan kwetiau Akang. Bila Anda tinggal di Sunter, Kelapa Gading, Mangga Besar dan daerah sekitarnya, pasti juga tahu tempat makan ini. Saya sedang makan dengan koko saya. Saat itu ada sekumpulan anak muda yang sedang makan. Biasanya anak muda suka ribut kalau sedang makan. Karena mereka sambil bercanda. Setelah kumpulan anak muda itu pulang, saya melihat masih ada satu piring kwetiau yang masih full. Seperti belum tersentuh sama sekali. Rasanya ingin mengambil kwetiau itu, lalu langsung saya makan!

Saya juga pernah melihat dua pasang orang muda sedang bertengkar dalam waktu dan tempat yang berbeda. Anehnya, setelah bertengkar mereka meninggalkan makanan itu. Ayam KFC masih belum tersentuh dan Burger McD juga belum tersentuh. Hati kecil berkata, “berantem-berantem aje, makanan ga usa dibuang juga kale!”

Bahkan saya juga sering melihat orang-orang yang kondangan membuang makanan yang masih banyak di piringnya. Lucunya, setelah itu mereka ambil makanan yang lainnya. Di sisi lain, saya juga pernah melihat orang yang kalau makan suka tidak habis, jadi otomatis dia buang sisa makanannya. Padahal dia bisa membungkus makanan itu, dan makan lagi saat lapar. Atau paling tidak, kita dapat mengambil makanan seperlunya, karena diri kita yang paling tahu tentang kapasitas perut kita.

Terkadang orang yang membuang makanan merasa ada hak untuk membuang makanan tersebut, karena merasa sudah membayarnya. Jadi, makanan itu sudah menjadi miliknya, dan dia berhak untuk memakan atau membuangnya. Saya pikir, ini adalah salah satu pembodohan yang sedang terjadi. Karena pada dasarnya, kita sama sekali tidak ada hak untuk membuang makanan. Kita bisa makan, bukan karena kita lebih hebat dari orang lain yang tidak bisa makan. Tapi karena anugerah dari Tuhan. Memang kita sudah bekerja keras untuk hal itu. Namun jangan lupa, bila Tuhan tidak memberkati penghasilan dan makanan kita. Maka kita pun tidak akan dapat menikmatinya!

Walaupun ini terdengar klise, tapi hal ini harus dipahami dengan baik! Bahwa MASIH BANYAK ORANG YANG KELAPARAN!

Facebook Forum Hijau Indonesia membuat suatu artikel yang bertuliskan seperti ini, “Makanan yang terbuang merugikan ekonomi dunia senilai $750 miliar/Rp8,5 triliun per tahun ...”[1]  Ironis sekali, padahal masih banyak negara yang mengalami kelaparan. Salah satunya adalah negara Indonesia! Indonesia menduduki peringkat ke-11 dari yang paling parah. Tepatnya, ada 12,6 juta orang di Indonesia yang kekurangan gizi![2] Sudah seharusnya kita lebih memerhatikan hal ini. Bila Anda pernah membuang makanan atau memang hobi menyisakan makanan lalu dibuang, pikirkanlah 12,6 juta orang yang masih kekurangan gizi karena kelaparan di Indonesia.

Buanglah makanan, bila makanan tersebut sudah tidak layak dikonsumsi lagi (basi). Tetapi renungkanlah, kenapa makanan tersebut bisa sampai basi?

Orang yang suka buang makanan adalah orang yang tidak menghargai hasil jerih payahnya sendiri, tidak menghargai orang-orang yang kelaparan dan tidak menghargai anugerah Tuhan!





[1] https://www.facebook.com/ForumHijauIndonesia/posts/512489208842181
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Kelaparan

Rabu, 30 Oktober 2013

Menerima Pujian = Menghargai Karya Sendiri


Sebenarnya saya sudah lama ingin membahas hal ini. Tetapi sering lupanya (hahaha ...). Kemarin, saya mengalami tentang hal ini, tentang menerima pujian. Kira-kira kejadian singkatnya seperti ini, Saya broadcast di whatsapp tentang tulisan-tulisan saya, yang ada di blog http://reflectionresults.blogspot.com. Setelah itu, teman saya berkomentar:

Teman  : Aku udah baca tadi kak, bagus ... tulisan kakak?
Saya     : Iya dunn tulisanku ;) Itu blogku.
Teman  : Orang mah dipuji, ngerendah gitu ya.. "ga, biasa aja kok"
              Ini mah, "iya dunn tulisanku"Hahahaha ... tapi bagus-bagus, lanjutkan!
Saya     : Harus belajar menerima pujian dunnn :D
Teman  : Hahahaha ... Okee ...

Bila Anda diperhadapkan hal yang sama, lalu Anda bersikap seperti saya, kemungkinan teman Anda berkomentar, "sombong amat nih anak!" Atau, "nyesel gue muji elo!"

Saya tahu persis, kita lahir di Indonesia yang budaya Timurnya masih melekat banget. Budaya Timur acap kali mengajarkan kepada kita untuk lebih santun. Sehingga bila dipuji, kebanyakan orang akan berkata, "ah enggak ... biasa-biasa aja kok." Atau ada orang-orang yang lebih rohani berkata, "ah, ini semua karena Tuhan, saya hanya alatNya saja."  Biasanya mereka yang berkata seperti itu, karena tidak mau dikatakan sombong oleh orang lain.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Namun kita juga harus sadar, bahwa kita memang layak menerima pujian tersebut, karena kita sudah bekerja keras untuk hal itu. Lagipula, bila kita dipuji oleh seseorang, berarti hal yang kita lakukan bukan “biasa-biasa aja” tapi “luar biasa!” Sehingga kita layak menerima pujian.

Bila kita selalu bilang “biasa-biasa aja” , tanpa disadari kita telah berbohong kepada diri sendiri dan orang yang memuji kita, serta sekaligus merendahkan diri kita. Ingat, rendah diri bukan rendah hati! Tentunya, sikap rendah diri atau minder itu tidak baik.

Dalam hal yang memang kita tidak layak menerima pujian, barulah kita mengatakan “biasa-biasa aja”. Saya pernah dipuji, saat saya sedang bermain gitar dan drum, biasanya yang memuji itu orang yang baru kenal dengan saya. Sebenarnya, saya tidak layak menerima pujian tersebut, karena permainan gitar dan drum saya, sayalah yang paling tahu. Nah, ini baru layak dibilang “biasa-biasa aja”. Kenapa? Sederhana! Karena memang biasa banget! Bahkan tidak berkembang. Saya pun memang tidak melatihnya secara khusus, jadi saya tidak layak menerima pujian dalam bidang musik. Paling yang layak dipuji, adalah pada saat saya BERANI tampil dengan bermain gitar atau drum. Jadi yang dipuji adalah keberaniannya, bukan permainannya.

Sederhananya, bila Anda memang merasa layak mendapatkan pujian, lalu ada orang yang memuji Anda ... Terimalah pujian tersebut dengan sukacita! Anda telah berusaha keras untuk hal tersebut! Anda layak menerima pujian!



Tidak menerima pujian = Tidak menghargai karya sendiri!

Senin, 28 Oktober 2013

Aku Peduli



Video ini sangat menginspirasi rakyat Indonesia. Saya ambil video ini dari http://www.youtube.com/user/EspiraTV?feature=watch 

Siapa pun yang buat video ini bener-bener kreatif! 
Inilah salah satu karya anak bangsa yang peduli terhadap bangsa Indonesia.
Putar yuk videonya! Lebih bagus lagi kalau menonton video ini menggunakan suara.

Untuk yang tidak bisa play videonya, saya copas kata-katanya:

Aku peduli.
Tapi masa depan bangsaku.
Itu bukan yang paling penting buat aku.
Duit banyak
Hidup senang
Posisi
Jauh lebih penting dari
Keadilan
Integritas
Moral
Aku yakin dan pasti
Ada harapan.
Negaraku masih menjunjung moral yang tinggi.
Tapi itu gak bakal bertahan
Nafsu lebih dinomor-satukan.
Trend menunjukkan
Anak cucu kita akan menuai kebobrokan kita.
Aku nggak percaya
Indonesia akan tetap jaya.
Memandang ke depan, aku melihat
"Degradasi moral melanda anak muda"
"Kawin cerai, apa salahnya?"
"Korupsi udah jadi budaya"
"Video mesum, itu mah biasa"
Nggak bisa dibilang lagi
Masih ada yang peduli akan bangsa ini.
Udah jelas banget
Generasi ini udah hancur dan gak ada harapan.
Sungguh sedih dan konyol kalo kita pikir
Kita BISA menjadikan dunia ini lebih baik.



Setelah baca dari atas ke bawah, baca lagi dari bawah ke atas!
Mulailah berkreasi untuk bangsa ini!

Salam #kreasindonesia

Jumat, 25 Oktober 2013

Doktrin Sampah



Buanglah sampah pada tempatnya! Kata-kata ini sering kita lihat dan dengar. Tetapi masih banyak orang yang cuek akan hal ini. Padahal buang sampah pada tempatnya adalah hal sederhana, namun masih banyak orang terpelajar yang tidak melakukannya. Bahkan yang lebih sering buang sampah sembarangan adalah orang tua. Mungkin mereka mengajarkan kepada anak-anaknya tentang buang sampah pada tempatnya, namun sering kali tindakannya tidak mencerminkan nasihatnya. Sehingga seorang anak juga bingung, di mana dia harus buang sampah? Jadi, jangan heran kalo suatu hari nanti, anak tersebut atau anak Anda, akan buang sampah sembarangan!

Sebenarnya sudah banyak artikel yang kontennya memuat tentang buang sampah pada tempatnya, namun banyaknya artikel, tidak sebanding dengan perbuatan masyarakatnya. Sehingga artikel tersebut hanya lalu begitu saja.

Salah satu penyebab banjir di Jakarta ini, adalah karena tidak optimalnya fungsi waduk maupun situ. Dalam catatan Pengamat tata kota, yang bernama Nirwono Joga mengatakan bahwa, pada tahun 1990-an, Jakarta memiliki 70 waduk dan 50 situ. Namun, kini hanya tersisa 42 waduk dan 16 situ. Sebanyak 50 persen di antaranya pun tidak berjalan optimal. Waduk-waduk di Jakarta dipenuhi tumbuhan enceng gondok, limbah, dan sampah. Pendangkalan pun terjadi akibat sedimentasi lumpur. Waduk yang akhirnya mengering kemudian dijadikan daerah hunian.[1] Jadi, salah satu penyebab banjir adalah sampah!

Saya pernah diceritakan suatu percakapan tentang hal di atas. Suatu hari, ada dua wanita yang sedang dalam perjalanan. Mereka naik mobil pribadi. Wanita yang A ingin buang sampah, akhirnya dengan wajah tanpa dosa, ia buka kaca mobil, lalu langsung ingin buang sampah tersebut. Sontak wanita B menegurnya, melihat temannya itu ingin buang sampah sembarangan. Bahkan saat itu, mereka sedang di jalan tol. Wanita B langsung mengatakan, “jangan buah sampah sembarangan! Nanti Jakarta banjir!” Wanita A berkata, “Jakarta enggak akan banjir dengan satu sampah yang gue buang!” Saya lupa kelanjutan dari cerita tersebut, kemungkinan besar wanita A tetap membuang sampah tersebut di jalan tol. Namun percakapan singkat itu sangat menarik. Percakapan itulah yang menjadi motivasi saya untuk membuat artikel ini.

Coba Anda bayangkan, menurut Anda, apakah pernyataan wanita A benar? Bahwa, sampah yang dia buang tidak akan menyebabkan Jakarta banjir? Saya pikir, wanita A ini benar! Jakarta tidak mungkin banjir dengan sampah yang dia buang. Apalagi hanya bekas bungkus makanan saja. Kota Jakarta terlalu besar untuk sampah yang kecil itu. Tidak mungkin sampah yang kecil itu memengaruhi kota Jakarta. Jika seperti itu, lalu untuk apa kita buang sampah pada tempatnya?

Coba kita memakai logika. Blog saya yang berjudul http://reflectionresults.blogspot.com/ pengunjungnya ±100 dalam sehari. Bila saya menghimbau mereka lewat artikel dengan judul , “jangan buang sampah sembarangan!” Pasti, sedikit banyak ada yang terpengaruh untuk buang sampah pada tempatnya (kalo punya hati sih! Hehehe …). Asumsikan yang terpengaruh adalah setengahnya. Berarti ada 50 orang yang akhirnya buang sampah pada tempatnya. Pertanyaannya, apakah 50 orang yang buang sampah pada tempatnya akan mencegah kebanjiran? Dengan lantang saya berkata, “TIDAK AKAN!” 50 orang yang buang sampah pada tempatnya juga tidak akan mencegah kebanjiran! Karena 50 orang masih sedikit dengan jumlah penduduk di Jakarta.

Jumlah penduduk di Jakarta sebanyak ± 9,607,787 jiwa. Ini data tahun 2010.[2] Sembilan juta lebih, dengan 50 orang yang coba saya pengaruhi untuk buang sampah pada tempatnya, tidak akan membuat perubahan yang signifikan. Jakarta tetap akan banjir! Jakarta tetap akan kotor! Mungkin Anda bertanya-tanya, lalu untuk apa artikel ini membahas tentang buang sampah pada tempatnya?

Saya coba menyederhanakan hal ini. Pada kenyataannya, bila Anda disiplin buang sampah pada tempatnya, Jakarta tetap akan banjir. Karena Anda hanya terdiri dari satu individu. Satu individu tidak akan bisa langsung mengubah satu kota, tetapi satu individu dapat memengaruhi satu keluarga; satu keluarga dapat memengaruhi satu RT; satu RT dapat memengaruhi satu RW; satu RW dapat memengaruhi satu kelurahan; satu kelurahan dapat memengaruhi satu kecamatan; satu kecamatan dapat memengaruhi satu kota!

Untuk itulah, sebarkan hal ini kepada banyak orang. Tanamkan doktrin sampah ini (buang sampah pada tempatnya), kepada diri Anda terlebih dahulu! Sehingga Anda juga disiplin untuk buang sampah pada tempatnya. Setelah itu, pengaruhi orang-orang disekeliling Anda. 

Satu sampah tidak akan mencegah kebanjiran, tetapi satu sampah dapat memberi teladan bagi orang di sekitar Anda! Tentu, dampaknya akan sangat besar, bila dilakukan dengan sepenuh hati!

Berkreasi tidak harus menciptakan sesuatu yang besar, berkreasi dapat dimulai dari hal kecil, salah satunya adalah dengan menciptakan budaya buang sampah pada tempatnya!


________________________________________

[1] http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/22/1053289/Ini.4.Penyebab.Banjir.Jakarta
[2] http://jakarta.bps.go.id/index.php?bWVudT0yMzA0JnBhZ2U9ZGF0YSZzdWI9MDQmaWQ9MTE=

Selasa, 22 Oktober 2013

Akhirnya Sarjana!


Kalo mao diceritain dari awal kayanya bakal panjang banget! Tapi akhirnya saya ada kesempatan untuk share tentang pengalaman studi saya. Jadi saya ceritain dari awal aja ya :D

Dimulai dari lulus SMA (lupa taon brapa), saya ingin kuliah teologi tapi sayangnya saya tidak diterima. Di 2 kampus tempat saya mendaftar, dua-duanya menolak saya. Sampe sekarang ga tau penyebabnya apa! Ini yang saya kurang setuju, kenapa mahasiswa yang tidak lulus ujian masuk tidak dibertahu penyebabnya. Apakah saya bodoh dalam tes masuk bhs inggris, pengetahuan Alkitab, dll..... Saya ga tau, tapi yang pasti saya dapet surat dari kampus kalo saya tidak diterima... that's it! Ga ada keterangan apa-apa. Pengen robek2 tuh surat rasanya. Tapi ga tau kemana skrg suratnya hehehe..

Setelah itu saya cukup frustasi, karena saya ga tau harus ngapain. Papi saya menyuruh bekerja sambil kuliah di YAI (Yayasan Apakah Itu??) hahaha. Saya nurut aja karena ga tau mau ngapain. Saya ambil jurusan komputer akutansi. Saya ambil karena tertarik dengan kata "komputer" tapi pada kenyataannya saya ga suka akutansi. Jadi hasilnya saya kuliah di sana hanya setahun. Dalam setahun itu saya lebih banyak bolosnya daripada masuknya. Bahkan kalo saya masuk kuliah, teman2 pernah bersorak sambil tepok tangan "wahh si Paulus masih idup... dia masih mau kuliah" hahaha.. tapi ya gitulah keadaannya. Saya izin dengan papi untuk tidak kuliah di YAI lagi karena memang ga suka n ga sanggup menghadapi angka2 ga jelas. Papi ijinin.. tapi dengan nada yang cukup tinggi (marah!) hahahaha.. Jadi saya kerja, hasilnya untuk kuliah setahun itu. Yah... uda buang waktu, buang duit pula... Berapa juta waktu itu saya habisin. (Tau gitu kan bisa buat DP motor Tiger, hahahhaa) Kalo ga salah tahun 2006 saya mulai disadarkan oleh salah seorang mentor saya di Gereja untuk bangkit kembali. Singkat cerita, saya berusaha mencari kelebihan diri saya sendiri. Akhirnya saya ketemu! saya suka gambar waktu kecil. Jadi saya coba les design grafis. Karena ga ada uang lagi, saya dibiayai sama Mami. Papi saya ga setuju (mungkin karena kesal melihat saya yang habisin uang dan waktu di YAI selama 1 tahun).

Hari pertama les design grafis di Digital Studio, Kelapa Gading (April 2006), sangat menyenangkan sekaligus menakutkan. Karena saya merasa susah banget belajar design grafis itu. Tapi saya tetep berusaha, sampai akhirnya lulus dari sana dengan nilai yang cukup memuaskan. Dari sinilah saya timbul percaya diri lagi. Setelah saya lulus dan mendapatkan sertifikat. Saya berusaha cari sampingan yang berhubungan dengan design grafis. walau tidak banyak, tapi lumayanlah... paling tidak bisa buat gorengan. hahahaha.. Setelah itu saya usaha bikin kaos dengan design sendiri dengan merk "paosign" (http://paosign.weebly.com/t-shirt.html) Lumayan laku, bahkan sampe keluar pulau juga. Ada yang ke lampung, bali bahkan sampe Ausy booo! 

Saya semakin semangat lagi untuk kuliah, sehingga saya berusaha untuk mencari data lagi tentang kampus teologi yang dekat dengan kantor. Saya coba bilang ke papi, tetapi dia menolaknya, mungkin dia masih kesal dengan saya karena menyia-nyiakan waktu di YAI. Setelah yang ketiga kalinya saya minta kuliah, dia akhirnya mengizinkannya dengan syarat: harus bayar sendiri! jadi kerja sambil kuliah! Akhirnya saya yang semangat berusaha mencari kampus. Januari, 2008 saya menemukan kampus di Kelapa Gading, dulu namanya ITKR (Intitut Teologi Kepemimpinan REM). Saya ingin kuliah disana karena dekat dengan kantor saya yang waktu itu di kelapa gading juga. Puji Tuhan akhirnya saya baru mulai kuliah di awal tahun 2008. 

Karena saya sibuk kuliah akhirnya saya mengesampingkan pekerjaan design grafis saya dan usaha t-shirt. Bahkan les private design grafis saya ga terusin, karena mau fokus kerja sambil kuliah. Banyak perjuangan yang saya lalui, antara lain adalah: bayar foto copy, bayar uang kuliah, beli buku, dll. Sampe pernah ga punya uang untuk bayar uang kuliah. Disitu saya berdoa "Tuhan kalo memang Tuhan mengizinkan saya untuk menjadi hamba Tuhan dan memanggil saya menjadi pelayanMu, tolong lunasi sisa uang kuliah saya yang belum terbayar, saya sudah tidak punya uang lagi untuk bayar." Puji Tuhan, ada seseorang yang namanya pada saat itu saya juga tidak tahu (sekarang tau) bisa memberi saya uang untuk kuliah melalui orang tua saya, padahal saya tidak kenal deket dengan dia. Orang tua saya juga ga pernah minta-minta ke dia. Dan dalam waktu 3 bulan, utang saya di kampus langsung lunas. Memang semester ke depannya saya masih harus bayar lagi, tetapi dengan kejadian tersebut saya langsung nangis, terharu kepada Tuhan. Saya menangis karena saya juga sempat meragukan kuasa Tuhan yang sudah begitu baik dalam setiap kehidupan saya. Sejak saat itu saya tidak ragu lagi dalam soal uang kuliah. Tuhan yang menyediakan selama saya juga berusaha. Tuhan melunasi atau tidak, Tuhan tetaplah Tuhan! Tuhan tetap baik! Itulah iman saya! 

Singkat cerita, di tahun 2012, akhirnya sampai juga ke masa yang paling sulit dalam perkuliahan, yaitu mengerjakan tugas akhir atau lebih sering dikenal dengan skripsi. Dimulai dari pembuatan judul. Saya mengajukan sampai (kurang lebih) 6 judul skripsi, tetapi ditolak semua. Sampai akhirnya saya mengambil judul tentang konseling Kristen akhirnya diterima. Kesulitan berikutnya adalah mengerjakan tiap-tiap Bab. Tadinya skripsi saya memakai metode kuantitatif. Sudah sampai Bab 2, Dosen saya bilang lebih baik diganti dengan metode kualitatif. Akhirnya dirombak lagi dari Bab 1. Di situ saya tetep fokus, dan dalam (kurang lebih) 6 bulan akhirnya kelar juga skripsinya.  Tantangan berikutnya adalah sidang skripsi yang diadakan pada bulan September 2012. Saya berdoa supaya semuanya lancar. Antara lain doa saya adalah :

1. Minta pertanyaan seputar konseling dan semua pertanyaan bisa dijawab dgn baik.
2. Mendapatkan nilai yg terbaik.
3. Tidak ada yg direvisi walau mustahil.
4. Skripsinya berguna bagi org yg membacanya.

Puji Tuhan semua doa saya terjawab:
1. Saya bisa menjawab dengan baik, tanpa ada adu argumentasi.
2. Saya mendapatkan nilai yang terbaik untuk saya sendiri, saya dapat nilai 9,2 (A-) untuk skripsinya. Bagi saya itu nilai terbaik walau tidak tertinggi, krn masih ada teman saya yang nilainya lebih tinggi.
3. Sama sekali tidak ada titik, koma, huruf, kata, kalimat, sub judul, judul yang diganti. Jadi tinggal fotocopy perbanyak aja.
4. Skripsi saya langsung diminta salah satu dosen di sana untuk dipelajari. Dan saya juga berikan dua copy untuk adik-adik rohani saya, tentunya juga untuk dipelajari. Dan skripsi saya juga menjadi acuan bagi skripsi adik tingkat di kampus.

Saya senang sekali pada saat sidang skripsi selesai, apalagi seluruh skripsi yang saya kerjakan adalah hasil jerih payah sendiri. (Gak beli ama orang lain hahahaha) Biaya skripsi Tuhan cukupi, biaya wisuda Tuhan juga cukupi melalui papi saya. Ketok palu di bulan September 2012 menandakan saya 'sah' mendapatkan gelar Sarjana Teologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (http://www.facebook.com/STTRE?ref=ts&fref=ts) dan acara wisuda berlangsung di bulan November 2012.... Akhirnya Sarjana!



Biarlah apa yang saya ceritakan ini menjadi berkat bagi orang yang membacanya, terutama yang lagi kuliah. Tetep semangat! jangan nyerah! Bila Tuhan berkehendak, Dia pasti akan mencukupi segala kebutuhan biaya kuliah kita, selama kita juga ada usaha!



all praise to Jesus, praise for ever!!




eits... tapi cerita ini masih berlanjut, karena saya masih mengambil Magister Teologi (S2), di tempat yang sama! c u guys!





Sumber: http://reflectionresults.blogspot.com/2013/05/akhirnya-sarjana.html

antara Bercanda dengan Bullying



Aaron Dugmore, adalah seorang bocah berusia sembilan tahun yang ditemukan tewas tergantung di kamar tidurnya, di Birmingham, Inggris. Ibunya, Kelly-Marie Dugmore mengatakan beberapa hari sebelum kematian putranya, Aaron pernah mengadu, kalau dia selalu menjadi bahan ejekan dan pelecehan oleh sekelompok anak-anak Asia di sekolahnya, karena warna kulitnya yang putih. Ia mengalami bullying.  Bully itu sendiri artinya adalah penggertak, biasanya dilakukan terhadap orang yang lemah. "Aaron terlihat terakhir kali di sekolah bersama teman-temannya, dan dia diejek dan ditertawakan karena warna kulitnya yang putih. Hal ini membuat saya sangat kesal!" Kata ibunya. Kemudian, Aaron ditemukan tergantung oleh ibunya, di distrik Erdington, Birmingham sekitar pukul enam sore pada tanggal 11 Februari 2013 yang lalu. Aaron merupakan murid baru dan bersekolah di Erdington Hall Primary School, yang 75% siswanya berasal dari latar belakang etnis minoritas. Inspektur detektif kepolisian West Mindland, David Wallbank mengkonfirmasi bahwa adanya dugaan kuat, bahwa Aaron mengalami bullying terus-menerus sampai ia meninggal. 

Hasil studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders menunjukkan bahwa bullying dapat membuat seorang anak merasa cemas dan ketakutan, sehingga memengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bila hal ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat memengaruhi penghargaan diri seorang siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan anak yang rentan terhadap stres dan depresi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying juga dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri. Terkadang, tanpa disadari dan disengaja, kita pernah melakukan bullying atau ejekan melalui candaan terhadap orang lain. Namun pernahkah kita berpikir bagaimana dampaknya bagi orang tersebut? Perilaku ini dapat berdampak terhadap fisik maupun psikis pada korban. Dampak fisik seperti sakit kepala, sakit dada, cedera pada tubuh, bahkan sampai menimbulkan kematian. Sedangkan dampak psikis seperti rendah diri, sulit berkonsentrasi, sehingga berpengaruh pada penurunan nilai akademis, trauma, sulit bersosialisasi, hingga depresi.

Hal ini seharusnya membuat kita sadar, bahwa dalam bercanda pun harus ada aturannya. Jangan sampai candaan kita menyakiti hati orang lain. Apabila kita sudah menyakiti hati orang lain, dengan candaan kita, berarti kita sudah melakukan perilaku bullying terhadap orang tersebut. Manusia dapat merasa dihargai dan disanjung hanya dengan kata-kata yang indah dan manis. Tetapi manusia juga dapat merasa tidak dihargai, hanya dengan kata-kata yang merendahkan dan melecehkan seseorang. Berhati-hatilah dalam bercanda!

Bercanda yang menyakiti hati, 

MEMERCAYAI kata MEMPERCAYAI


Pernahkah Anda melihat suatu artikel atau buku yang memakai kata “mempercayai”? Saya yakin, pasti Anda sering menemukannya! Apakah ada yang salah dengan kata “mempercayai”? Salah besar! Karena kata “mempercayai” tidak ada artinya. Bila Anda tidak percaya kepada saya, coba Anda cari kata tersebut di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang resmi. Saya yakin, Anda tidak akan menemukan kata tersebut. Bila tidak ada kata “mempercayai” dalam KBBI, berarti kata itu tidak memiliki arti sama sekali. Seharusnya yang dipakai adalah kata “memercayai”.

Masalahnya sekarang, kenapa masih banyak orang yang memercayai kata mempercayai, sehingga mereka masih menggunakan kata tersebut untuk menjelaskan sesuatu dalam artikel atau bukunya? Sederhana sekali! Karena masih banyak orang Indonesia yang tidak peduli dengan bahasanya sendiri! Padahal sudah banyak banyak orang Indonesia yang melek aksara atau melek huruf.

Sosiolog Pendidikan dan Kemasyarakatan dari Universitas Indonesia (UI) Hanief Saha Ghafur menyebutkan, angka melek aksara di Indonesia sudah cukup tinggi. "Misalnya pada MDG's angka pendidikan keaksaraan memang cukup bagus. Penduduk Indonesia yang melek huruf sebesar 99,47 persen pada 2009. Namun, angka yang buta huruf masih relatif cukup tinggi juga,"[1]

Anda bisa melihat sendiri fakta ini, walaupun angka yang buta huruf masih tinggi, tetapi penduduk Indonesia yang melek aksara (huruf) cukup tinggi! Masalahnya, apakah mereka (termasuk kita) benar-benar melek? Kalo iya, kenapa masih ada kata “mempercayai” dalam sebuah artikel atau buku?

Ketelitian terhadap tata bahasa di Indonesia sangat minim. Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap budaya membaca dan menulis. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa akar dari masalah ini semua adalah CUEK atau TIDAK PEDULI dengan bahasa Indonesia! Bila kita masih memercayai kata mempercayai, maka kita masih cuek dengan bahasa Indonesia. Kalau masih cuek, bagaimana bangsa Indonesia dapat menelurkan banyak penulis yang cerdas dan teliti?

Saya bicara hal ini, bukan karena saya yang paling benar. Saya sendiri adalah orang yang tergolong cuek dalam bahasa Indonesia. Waktu masih sekolah, pelajaran bahasa Indonesia saya mendapatkan nilai yang jelek. Saya tidak suka dengan bahasa Indonesia, bahkan saya lebih tertarik dengan bahasa Inggris (walaupun nilai bahasa Inggrisnya standard, hahahaha ...)

Namun setelah saya mulai kuliah, saya mulai memerhatikan hal ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk belajar lebih teliti mengenai tata bahasa Indonesia. Di samping itu, karena memang pekerjaan saya sekarang adalah sebagai penulis. Saya harus sadar, bahwa saya sendiri masih jauh dari sempurna dalam hal ini. Saya masih dalam tahap pembelajaran. Namun setidaknya, SAYA BELAJAR LEBIH PEDULI tentang tata bahasa Indonesia! Jadi, ampuni saya, bila setiap artikel yang saya tulis masih banyak kesalahan tata bahasa Indonesia.

Sekarang, saya tidak MEMERCAYAI kata MEMPERCAYAI lagi! 
Karena saya MEMERCAYAI kata MEMERCAYAI!

Bagaimana dengan Anda?





[1] http://kampus.okezone.com/read/2013/02/28/373/769219/large