kreasindonesia

kreasindonesia adalah blog kedua saya setelah http://reflectionresults.blogspot.com/. Kata ini hasil dari penggabungan kata kreasi dan kata Indonesia. Definisi kreasi adalah hasil daya cipta atau hasil daya khayal. Sebagai bangsa Indonesia, tentunya kita harus mengharumkan bangsa ini lewat kecakapan yang kita miliki. Anda harus berkreasi atau menghasilkan sesuatu sebagai hasil buah pikiran untuk Indonesia. Kenapa? Karena Anda adalah salah satu penduduk bangsa Indonesia!

Daripada Anda menghabiskan waktu untuk menjelek-jelekkan Indonesia, alangkah baiknya bila Anda menciptakan sesuatu untuk Indonesia! Karena perubahan bangsa ini bukan ditentukan dari kata-kata yang jelek atau tidak membangun, tapi dari tindakan yang menghasilkan sesuatu! Untuk itu berkreasilah untuk Indonesia. Inilah definisi dari kreasindonesia.

Saya tidak bisa menciptakan sesuatu yang dapat mengubah Indonesia secara langsung. Tetapi setidaknya, saya berusaha menciptakan cara pandang yang baru tentang Indonesia. Untuk itulah blog kreasindonesia dibuat! Selamat Membaca, Selamat berkreasi!

Selasa, 22 Oktober 2013

Akhirnya Sarjana!


Kalo mao diceritain dari awal kayanya bakal panjang banget! Tapi akhirnya saya ada kesempatan untuk share tentang pengalaman studi saya. Jadi saya ceritain dari awal aja ya :D

Dimulai dari lulus SMA (lupa taon brapa), saya ingin kuliah teologi tapi sayangnya saya tidak diterima. Di 2 kampus tempat saya mendaftar, dua-duanya menolak saya. Sampe sekarang ga tau penyebabnya apa! Ini yang saya kurang setuju, kenapa mahasiswa yang tidak lulus ujian masuk tidak dibertahu penyebabnya. Apakah saya bodoh dalam tes masuk bhs inggris, pengetahuan Alkitab, dll..... Saya ga tau, tapi yang pasti saya dapet surat dari kampus kalo saya tidak diterima... that's it! Ga ada keterangan apa-apa. Pengen robek2 tuh surat rasanya. Tapi ga tau kemana skrg suratnya hehehe..

Setelah itu saya cukup frustasi, karena saya ga tau harus ngapain. Papi saya menyuruh bekerja sambil kuliah di YAI (Yayasan Apakah Itu??) hahaha. Saya nurut aja karena ga tau mau ngapain. Saya ambil jurusan komputer akutansi. Saya ambil karena tertarik dengan kata "komputer" tapi pada kenyataannya saya ga suka akutansi. Jadi hasilnya saya kuliah di sana hanya setahun. Dalam setahun itu saya lebih banyak bolosnya daripada masuknya. Bahkan kalo saya masuk kuliah, teman2 pernah bersorak sambil tepok tangan "wahh si Paulus masih idup... dia masih mau kuliah" hahaha.. tapi ya gitulah keadaannya. Saya izin dengan papi untuk tidak kuliah di YAI lagi karena memang ga suka n ga sanggup menghadapi angka2 ga jelas. Papi ijinin.. tapi dengan nada yang cukup tinggi (marah!) hahahaha.. Jadi saya kerja, hasilnya untuk kuliah setahun itu. Yah... uda buang waktu, buang duit pula... Berapa juta waktu itu saya habisin. (Tau gitu kan bisa buat DP motor Tiger, hahahhaa) Kalo ga salah tahun 2006 saya mulai disadarkan oleh salah seorang mentor saya di Gereja untuk bangkit kembali. Singkat cerita, saya berusaha mencari kelebihan diri saya sendiri. Akhirnya saya ketemu! saya suka gambar waktu kecil. Jadi saya coba les design grafis. Karena ga ada uang lagi, saya dibiayai sama Mami. Papi saya ga setuju (mungkin karena kesal melihat saya yang habisin uang dan waktu di YAI selama 1 tahun).

Hari pertama les design grafis di Digital Studio, Kelapa Gading (April 2006), sangat menyenangkan sekaligus menakutkan. Karena saya merasa susah banget belajar design grafis itu. Tapi saya tetep berusaha, sampai akhirnya lulus dari sana dengan nilai yang cukup memuaskan. Dari sinilah saya timbul percaya diri lagi. Setelah saya lulus dan mendapatkan sertifikat. Saya berusaha cari sampingan yang berhubungan dengan design grafis. walau tidak banyak, tapi lumayanlah... paling tidak bisa buat gorengan. hahahaha.. Setelah itu saya usaha bikin kaos dengan design sendiri dengan merk "paosign" (http://paosign.weebly.com/t-shirt.html) Lumayan laku, bahkan sampe keluar pulau juga. Ada yang ke lampung, bali bahkan sampe Ausy booo! 

Saya semakin semangat lagi untuk kuliah, sehingga saya berusaha untuk mencari data lagi tentang kampus teologi yang dekat dengan kantor. Saya coba bilang ke papi, tetapi dia menolaknya, mungkin dia masih kesal dengan saya karena menyia-nyiakan waktu di YAI. Setelah yang ketiga kalinya saya minta kuliah, dia akhirnya mengizinkannya dengan syarat: harus bayar sendiri! jadi kerja sambil kuliah! Akhirnya saya yang semangat berusaha mencari kampus. Januari, 2008 saya menemukan kampus di Kelapa Gading, dulu namanya ITKR (Intitut Teologi Kepemimpinan REM). Saya ingin kuliah disana karena dekat dengan kantor saya yang waktu itu di kelapa gading juga. Puji Tuhan akhirnya saya baru mulai kuliah di awal tahun 2008. 

Karena saya sibuk kuliah akhirnya saya mengesampingkan pekerjaan design grafis saya dan usaha t-shirt. Bahkan les private design grafis saya ga terusin, karena mau fokus kerja sambil kuliah. Banyak perjuangan yang saya lalui, antara lain adalah: bayar foto copy, bayar uang kuliah, beli buku, dll. Sampe pernah ga punya uang untuk bayar uang kuliah. Disitu saya berdoa "Tuhan kalo memang Tuhan mengizinkan saya untuk menjadi hamba Tuhan dan memanggil saya menjadi pelayanMu, tolong lunasi sisa uang kuliah saya yang belum terbayar, saya sudah tidak punya uang lagi untuk bayar." Puji Tuhan, ada seseorang yang namanya pada saat itu saya juga tidak tahu (sekarang tau) bisa memberi saya uang untuk kuliah melalui orang tua saya, padahal saya tidak kenal deket dengan dia. Orang tua saya juga ga pernah minta-minta ke dia. Dan dalam waktu 3 bulan, utang saya di kampus langsung lunas. Memang semester ke depannya saya masih harus bayar lagi, tetapi dengan kejadian tersebut saya langsung nangis, terharu kepada Tuhan. Saya menangis karena saya juga sempat meragukan kuasa Tuhan yang sudah begitu baik dalam setiap kehidupan saya. Sejak saat itu saya tidak ragu lagi dalam soal uang kuliah. Tuhan yang menyediakan selama saya juga berusaha. Tuhan melunasi atau tidak, Tuhan tetaplah Tuhan! Tuhan tetap baik! Itulah iman saya! 

Singkat cerita, di tahun 2012, akhirnya sampai juga ke masa yang paling sulit dalam perkuliahan, yaitu mengerjakan tugas akhir atau lebih sering dikenal dengan skripsi. Dimulai dari pembuatan judul. Saya mengajukan sampai (kurang lebih) 6 judul skripsi, tetapi ditolak semua. Sampai akhirnya saya mengambil judul tentang konseling Kristen akhirnya diterima. Kesulitan berikutnya adalah mengerjakan tiap-tiap Bab. Tadinya skripsi saya memakai metode kuantitatif. Sudah sampai Bab 2, Dosen saya bilang lebih baik diganti dengan metode kualitatif. Akhirnya dirombak lagi dari Bab 1. Di situ saya tetep fokus, dan dalam (kurang lebih) 6 bulan akhirnya kelar juga skripsinya.  Tantangan berikutnya adalah sidang skripsi yang diadakan pada bulan September 2012. Saya berdoa supaya semuanya lancar. Antara lain doa saya adalah :

1. Minta pertanyaan seputar konseling dan semua pertanyaan bisa dijawab dgn baik.
2. Mendapatkan nilai yg terbaik.
3. Tidak ada yg direvisi walau mustahil.
4. Skripsinya berguna bagi org yg membacanya.

Puji Tuhan semua doa saya terjawab:
1. Saya bisa menjawab dengan baik, tanpa ada adu argumentasi.
2. Saya mendapatkan nilai yang terbaik untuk saya sendiri, saya dapat nilai 9,2 (A-) untuk skripsinya. Bagi saya itu nilai terbaik walau tidak tertinggi, krn masih ada teman saya yang nilainya lebih tinggi.
3. Sama sekali tidak ada titik, koma, huruf, kata, kalimat, sub judul, judul yang diganti. Jadi tinggal fotocopy perbanyak aja.
4. Skripsi saya langsung diminta salah satu dosen di sana untuk dipelajari. Dan saya juga berikan dua copy untuk adik-adik rohani saya, tentunya juga untuk dipelajari. Dan skripsi saya juga menjadi acuan bagi skripsi adik tingkat di kampus.

Saya senang sekali pada saat sidang skripsi selesai, apalagi seluruh skripsi yang saya kerjakan adalah hasil jerih payah sendiri. (Gak beli ama orang lain hahahaha) Biaya skripsi Tuhan cukupi, biaya wisuda Tuhan juga cukupi melalui papi saya. Ketok palu di bulan September 2012 menandakan saya 'sah' mendapatkan gelar Sarjana Teologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (http://www.facebook.com/STTRE?ref=ts&fref=ts) dan acara wisuda berlangsung di bulan November 2012.... Akhirnya Sarjana!



Biarlah apa yang saya ceritakan ini menjadi berkat bagi orang yang membacanya, terutama yang lagi kuliah. Tetep semangat! jangan nyerah! Bila Tuhan berkehendak, Dia pasti akan mencukupi segala kebutuhan biaya kuliah kita, selama kita juga ada usaha!



all praise to Jesus, praise for ever!!




eits... tapi cerita ini masih berlanjut, karena saya masih mengambil Magister Teologi (S2), di tempat yang sama! c u guys!





Sumber: http://reflectionresults.blogspot.com/2013/05/akhirnya-sarjana.html

antara Bercanda dengan Bullying



Aaron Dugmore, adalah seorang bocah berusia sembilan tahun yang ditemukan tewas tergantung di kamar tidurnya, di Birmingham, Inggris. Ibunya, Kelly-Marie Dugmore mengatakan beberapa hari sebelum kematian putranya, Aaron pernah mengadu, kalau dia selalu menjadi bahan ejekan dan pelecehan oleh sekelompok anak-anak Asia di sekolahnya, karena warna kulitnya yang putih. Ia mengalami bullying.  Bully itu sendiri artinya adalah penggertak, biasanya dilakukan terhadap orang yang lemah. "Aaron terlihat terakhir kali di sekolah bersama teman-temannya, dan dia diejek dan ditertawakan karena warna kulitnya yang putih. Hal ini membuat saya sangat kesal!" Kata ibunya. Kemudian, Aaron ditemukan tergantung oleh ibunya, di distrik Erdington, Birmingham sekitar pukul enam sore pada tanggal 11 Februari 2013 yang lalu. Aaron merupakan murid baru dan bersekolah di Erdington Hall Primary School, yang 75% siswanya berasal dari latar belakang etnis minoritas. Inspektur detektif kepolisian West Mindland, David Wallbank mengkonfirmasi bahwa adanya dugaan kuat, bahwa Aaron mengalami bullying terus-menerus sampai ia meninggal. 

Hasil studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders menunjukkan bahwa bullying dapat membuat seorang anak merasa cemas dan ketakutan, sehingga memengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bila hal ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat memengaruhi penghargaan diri seorang siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan anak yang rentan terhadap stres dan depresi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying juga dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri. Terkadang, tanpa disadari dan disengaja, kita pernah melakukan bullying atau ejekan melalui candaan terhadap orang lain. Namun pernahkah kita berpikir bagaimana dampaknya bagi orang tersebut? Perilaku ini dapat berdampak terhadap fisik maupun psikis pada korban. Dampak fisik seperti sakit kepala, sakit dada, cedera pada tubuh, bahkan sampai menimbulkan kematian. Sedangkan dampak psikis seperti rendah diri, sulit berkonsentrasi, sehingga berpengaruh pada penurunan nilai akademis, trauma, sulit bersosialisasi, hingga depresi.

Hal ini seharusnya membuat kita sadar, bahwa dalam bercanda pun harus ada aturannya. Jangan sampai candaan kita menyakiti hati orang lain. Apabila kita sudah menyakiti hati orang lain, dengan candaan kita, berarti kita sudah melakukan perilaku bullying terhadap orang tersebut. Manusia dapat merasa dihargai dan disanjung hanya dengan kata-kata yang indah dan manis. Tetapi manusia juga dapat merasa tidak dihargai, hanya dengan kata-kata yang merendahkan dan melecehkan seseorang. Berhati-hatilah dalam bercanda!

Bercanda yang menyakiti hati, 

Success is Simple, as Simple as Me!



Saya bingung, kenapa masih banyak orang yang kalau ditanya, "apakah anda sudah sukses?", lalu menjawab, "belum, saya belum bisa dibilang sukses". Padahal sukses itu sederhana sekali!

Mungkin, masih banyak orang yang beranggapan, bahwa sukses itu pada saat kita sudah punya mobil, motor, kerjaan yang mapan, penghasilan yang lebih dari cukup, keluarga yang bahagia, Jumlah tabungan yang menunjang masa depan. Apakah harus seperti itu, baru bisa dibilang sukses? Tentu tidak!

Sukses dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah berhasil. Bila saya jabarkan, sukses itu berarti sesuatu yang kita inginkan, sudah tercapai. see... Sederhana bukan?

Setiap orang dilahirkan untuk menjadi orang sukses, hanya tinggal keputusan di tangan kita. Apakah kita mau sukses atau tidak. Kita bisa sampai ke dunia harus melewati kompetisi yang luar biasa bukan? Kita harus bersaing dengan jutaan sel sperma lainnya. Berarti kita sudah sukses untuk lahir ke dunia.

Sukses seorang anak berumur satu tahun, pada saat dia bisa berjalan.
Sukses seorang anak TK, pada saat ia berhasil masuk SD.
Sukses seorang anak SD, pada saat ia berhasil masuk SMP.
Sukses seorang anak SMP, pada saat ia berhasil masuk SMA.
Sukses seorang anak SMA, pada saat ia berhasil lulus dan punya tujuan selanjutnya.
Sukses seorang dokter, pada saat ia berhasil menyembuhkan penyakit pasiennya.
Sukses seorang polisi, pada saat ia berhasil menjaga dan melindungi warga setempat.
Sukses seorang penginjil, pada saat ia berhasil memenangkan banyak jiwa.
Sukses seorang penulis, pada saat karyanya berguna bagi orang lain.
Sukses seorang pilot, pada saat ia berhasil melandaskan pesawat dengan selamat.
Sukses seorang guru, pada saat ia berhasil membuat anak-anaknya mengerti.
Sukses menurut Anda? Hanya Anda sendiri yang dapat menjawabnya!

Orang Sukses itu tahu, bahwa dirinya adalah orang sukses. Jangan ragu lagi untuk mengatakan "Saya adalah orang sukses". Karena, sukses itu sederhana, sesederhana Anda dan saya. Itulah sukses menurut saya!


"Success is simple, as simple as me."




MEMERCAYAI kata MEMPERCAYAI


Pernahkah Anda melihat suatu artikel atau buku yang memakai kata “mempercayai”? Saya yakin, pasti Anda sering menemukannya! Apakah ada yang salah dengan kata “mempercayai”? Salah besar! Karena kata “mempercayai” tidak ada artinya. Bila Anda tidak percaya kepada saya, coba Anda cari kata tersebut di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang resmi. Saya yakin, Anda tidak akan menemukan kata tersebut. Bila tidak ada kata “mempercayai” dalam KBBI, berarti kata itu tidak memiliki arti sama sekali. Seharusnya yang dipakai adalah kata “memercayai”.

Masalahnya sekarang, kenapa masih banyak orang yang memercayai kata mempercayai, sehingga mereka masih menggunakan kata tersebut untuk menjelaskan sesuatu dalam artikel atau bukunya? Sederhana sekali! Karena masih banyak orang Indonesia yang tidak peduli dengan bahasanya sendiri! Padahal sudah banyak banyak orang Indonesia yang melek aksara atau melek huruf.

Sosiolog Pendidikan dan Kemasyarakatan dari Universitas Indonesia (UI) Hanief Saha Ghafur menyebutkan, angka melek aksara di Indonesia sudah cukup tinggi. "Misalnya pada MDG's angka pendidikan keaksaraan memang cukup bagus. Penduduk Indonesia yang melek huruf sebesar 99,47 persen pada 2009. Namun, angka yang buta huruf masih relatif cukup tinggi juga,"[1]

Anda bisa melihat sendiri fakta ini, walaupun angka yang buta huruf masih tinggi, tetapi penduduk Indonesia yang melek aksara (huruf) cukup tinggi! Masalahnya, apakah mereka (termasuk kita) benar-benar melek? Kalo iya, kenapa masih ada kata “mempercayai” dalam sebuah artikel atau buku?

Ketelitian terhadap tata bahasa di Indonesia sangat minim. Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap budaya membaca dan menulis. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa akar dari masalah ini semua adalah CUEK atau TIDAK PEDULI dengan bahasa Indonesia! Bila kita masih memercayai kata mempercayai, maka kita masih cuek dengan bahasa Indonesia. Kalau masih cuek, bagaimana bangsa Indonesia dapat menelurkan banyak penulis yang cerdas dan teliti?

Saya bicara hal ini, bukan karena saya yang paling benar. Saya sendiri adalah orang yang tergolong cuek dalam bahasa Indonesia. Waktu masih sekolah, pelajaran bahasa Indonesia saya mendapatkan nilai yang jelek. Saya tidak suka dengan bahasa Indonesia, bahkan saya lebih tertarik dengan bahasa Inggris (walaupun nilai bahasa Inggrisnya standard, hahahaha ...)

Namun setelah saya mulai kuliah, saya mulai memerhatikan hal ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk belajar lebih teliti mengenai tata bahasa Indonesia. Di samping itu, karena memang pekerjaan saya sekarang adalah sebagai penulis. Saya harus sadar, bahwa saya sendiri masih jauh dari sempurna dalam hal ini. Saya masih dalam tahap pembelajaran. Namun setidaknya, SAYA BELAJAR LEBIH PEDULI tentang tata bahasa Indonesia! Jadi, ampuni saya, bila setiap artikel yang saya tulis masih banyak kesalahan tata bahasa Indonesia.

Sekarang, saya tidak MEMERCAYAI kata MEMPERCAYAI lagi! 
Karena saya MEMERCAYAI kata MEMERCAYAI!

Bagaimana dengan Anda?





[1] http://kampus.okezone.com/read/2013/02/28/373/769219/large