Menjelang Pemilu 2014 yang akan
dilaksanakan dua kali yaitu Pemilu Legislatif (PiLeg) pada tanggal 9 April 2014
dan Pemilu Presiden (PilPres) pada tanggal 9 Juli 2014 , sering terdengar kata
GolPut.
Istilah GolPut
muncul pertama kali menjelang pemilu pertama zaman Orde Baru tahun 1971.
Pemrakarsa sikap untuk tidak memilih itu, antara lain Arief Budiman, Julius
Usman dan almarhum Imam Malujo Sumali. Langkah mereka didasari pada pandangan
bahwa aturan main berdemokrasi tidak ditegakkan, cenderung diinjak-injak.
Kata GolPut
itu sendiri adalah sebuah singkatan dari Golongan Putih. Makna inti dari kata
GolPut ini adalah sikap untuk tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu karena
berbagai macam alasan.
Biasanya kaum
GolPut melakukan tiga sikap:
1. Menusuk
lebih dari satu partai.
2. Menusuk
area putih dalam lembar kartu suara.
3. Sama sekali
tidak datang ke tempat pemilihan suara (TPS).
Mereka yang GolPut
sebagian besar menganggap para penyelenggara negara dan partai-partai yang ada
tidak menyuarakan dan pro-kebaikan berpolitik. Jadi, daripada memilih partai
yang ada lebih baik tidak memilih siapa pun. Anggapan mereka, partai-partai
yang ada akan berperilaku buruk pula bila memenangkan pemilu. GolPut bukanlah
organisasi yang diatur oleh instrumen peraturan. Itu juga tidak dikoordinasi
melalui sistem manajemen. Golput sekadar penyebutan kepada akumulasi
pribadi-pribadi yang tidak ikut pemilu atau ikut pemilu tetapi dengan cara
merusak surat suara (salah satu cara). Mereka tidak mengenal satu sama lain dan
biasanya tidak dikenali, bahkan oleh orang yang terdekat, sekalipun. Tentu
saja, ada beberapa orang yang berani mendeklarasikan dirinya adalah GolPut.
Jadi mereka
yang GolPut, adalah mereka yang dengan sengaja dan sadar menolak memberikan
suara dalam pemilu, baik dalam PiLeg ataupun PilPres.
Saya sebagai
penulis blog kreasindonesia tidak
setuju dengan sikap GolPut tersebut. Saya ingin seluruh rakyat Indonesia
mengerti betapa pentingnya turut serta dalam Pemilu 2014 ini. Kenapa? Coba Anda
bayangkan keadaan Indonesia sekarang ini. Dari segi pendidikan, ekonomi,
sosial, politik, kerukunan umat beragama, dll. Sangat kompleks bukan?

Saya sangat
yakin, pasti banyak orang yang menyalahkan keadaan ini kepada pejabat-pejabat
yang tidak bertanggung jawab serta mereka yang korupsi. Apakah mereka salah?
Benar! Bila mereka tidak bertanggung jawab dan korupsi. Namun bila kita
renungkan sejenak, mereka ada di kursi pemerintahan kira-kira karena siapa?
Apakah dengan sendirinya mereka langsung dapat duduk di kursi pemerintahan?
Saya kira tidak! (kecuali ada permainan dalam hal ini) Mereka bisa berada di
sana, karena kita yang memilih. Jadi seharusnya kita yang memilih harus lebih
cerdas untuk mencari tahu informasi mengenai CaLeg atau CaPres tersebut. Zaman
sudah maju, kita bisa menggunakan media internet sebagai sumber informasi.
Untuk yang
GolPut malah lebih membuat keadaan semakin kompleks. Karena mungkin dengan
adanya GolPut akan memancing oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memakai
kartu pemilih yang tidak dipakai kaum GolPut.
Ada yang
berkata GolPut berarti menyerah, saya pikir ada benarnya! Karena dengan GolPut
berarti kita menyerah dengan keadaan, dan bila keadaan negara semakin kompleks,
tinggal mencari kambing hitam untuk disalahkan. Menyerah dengan keadaan berarti
kalah sebelum berperang. Dan orang seperti ini tidak bertanggung jawab. Lalu
apa bedanya dengan pejabat yang tidak bertanggung jawab? Sama-sama tidak
bertanggung jawab bukan?
Maksud saya,
alangkah baiknya bila seluruh rakyat Indonesia turut serta dalam pemilu 2014
ini, karena negara ini semakin maju atau tidak tergantung tanggung jawab dari “si
pemilih” dan “si yang dipilih”. Jadi
kita sama-sama bertanggung jawab. Bila ada masalah kedepannya, kita sama-sama mencari
solusinya.
Sila pertama
dari pancasila adalah KETUHANAN YANG MAHA ESA. Berarti Indonesia mengakui atau
beriman bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa. Tentunya iman itu akan sempurna bila
disertai dengan perbuatan. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.
Percuma bila kita berdoa supaya Indonesia pulih, tapi kita sendiri tidak mau
mengambil andil untuk pemulihan tersebut!
Ingatlah, bila
ada satu pejabat yang korupsi, bukan berarti Anda berhak memberi "label korupsi" kepada pejabat yang lain! Bila ada satu pejabat yang tidak bertanggung jawab,
bukan berarti Anda berhak memberi "label tidak bertanggung jawab" kepada pejabat
yang lain! Masih banyak pejabat dan calon pejabat yang jujur dan bertanggung
jawab. Mungkin mereka tidak terlalu diekspos atau tidak diperhatikan karena
kita sudah tutup mata terlebih dahulu.
Bukalah mata
Anda sekarang, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang CaLeg dan CaPres.
Pilihlah orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab.