Buanglah sampah pada tempatnya! Kata-kata ini sering kita lihat dan dengar. Tetapi masih banyak orang yang cuek akan hal ini. Padahal buang sampah pada tempatnya adalah hal sederhana, namun masih banyak orang terpelajar yang tidak melakukannya. Bahkan yang lebih sering buang sampah sembarangan adalah orang tua. Mungkin mereka mengajarkan kepada anak-anaknya tentang buang sampah pada tempatnya, namun sering kali tindakannya tidak mencerminkan nasihatnya. Sehingga seorang anak juga bingung, di mana dia harus buang sampah? Jadi, jangan heran kalo suatu hari nanti, anak tersebut atau anak Anda, akan buang sampah sembarangan!
Sebenarnya sudah banyak artikel yang
kontennya memuat tentang buang sampah pada tempatnya, namun banyaknya artikel,
tidak sebanding dengan perbuatan masyarakatnya. Sehingga artikel tersebut hanya
lalu begitu saja.
Salah satu penyebab banjir di Jakarta
ini, adalah karena tidak optimalnya fungsi waduk maupun situ. Dalam catatan Pengamat
tata kota, yang bernama Nirwono Joga mengatakan bahwa, pada tahun 1990-an,
Jakarta memiliki 70 waduk dan 50 situ. Namun, kini hanya tersisa 42 waduk dan
16 situ. Sebanyak 50 persen di antaranya pun tidak berjalan optimal.
Waduk-waduk di Jakarta dipenuhi tumbuhan enceng
gondok, limbah, dan sampah. Pendangkalan pun terjadi akibat sedimentasi
lumpur. Waduk yang akhirnya mengering kemudian dijadikan daerah hunian.[1]
Jadi, salah satu penyebab banjir adalah sampah!
Saya pernah diceritakan suatu percakapan
tentang hal di atas. Suatu hari, ada dua wanita yang sedang dalam perjalanan. Mereka
naik mobil pribadi. Wanita yang A ingin buang sampah, akhirnya dengan wajah
tanpa dosa, ia buka kaca mobil, lalu langsung ingin buang sampah tersebut. Sontak
wanita B menegurnya, melihat temannya itu ingin buang sampah sembarangan. Bahkan
saat itu, mereka sedang di jalan tol. Wanita B langsung mengatakan, “jangan buah sampah sembarangan! Nanti Jakarta
banjir!” Wanita A berkata, “Jakarta
enggak akan banjir dengan satu sampah yang gue buang!” Saya lupa kelanjutan
dari cerita tersebut, kemungkinan besar wanita A tetap membuang sampah tersebut
di jalan tol. Namun percakapan singkat itu sangat menarik. Percakapan itulah
yang menjadi motivasi saya untuk membuat artikel ini.

Coba kita memakai logika. Blog saya yang
berjudul http://reflectionresults.blogspot.com/
pengunjungnya ±100 dalam sehari. Bila saya menghimbau mereka lewat
artikel dengan judul , “jangan buang
sampah sembarangan!” Pasti, sedikit banyak ada yang terpengaruh untuk buang
sampah pada tempatnya (kalo punya hati sih! Hehehe …). Asumsikan yang
terpengaruh adalah setengahnya. Berarti ada 50 orang yang akhirnya buang sampah
pada tempatnya. Pertanyaannya, apakah 50 orang yang buang sampah pada tempatnya
akan mencegah kebanjiran? Dengan lantang saya berkata, “TIDAK AKAN!” 50 orang
yang buang sampah pada tempatnya juga tidak akan mencegah kebanjiran! Karena 50
orang masih sedikit dengan jumlah penduduk di Jakarta.
Jumlah penduduk di Jakarta sebanyak ± 9,607,787 jiwa. Ini data tahun 2010.[2] Sembilan
juta lebih, dengan 50 orang yang coba saya pengaruhi untuk buang sampah pada
tempatnya, tidak akan membuat perubahan yang signifikan. Jakarta tetap akan
banjir! Jakarta tetap akan kotor! Mungkin Anda bertanya-tanya, lalu untuk apa
artikel ini membahas tentang buang sampah pada tempatnya?
Saya
coba menyederhanakan hal ini. Pada kenyataannya, bila Anda disiplin buang
sampah pada tempatnya, Jakarta tetap akan banjir. Karena Anda hanya terdiri
dari satu individu. Satu individu tidak akan bisa langsung mengubah satu kota,
tetapi satu individu dapat memengaruhi satu keluarga; satu keluarga dapat
memengaruhi satu RT; satu RT dapat memengaruhi satu RW; satu RW dapat
memengaruhi satu kelurahan; satu kelurahan dapat memengaruhi satu kecamatan;
satu kecamatan dapat memengaruhi satu kota!
Untuk itulah, sebarkan hal ini kepada banyak
orang. Tanamkan doktrin sampah ini (buang sampah
pada tempatnya), kepada diri Anda terlebih dahulu! Sehingga Anda juga
disiplin untuk buang sampah pada tempatnya. Setelah itu, pengaruhi orang-orang
disekeliling Anda.
Satu sampah tidak akan mencegah kebanjiran, tetapi satu sampah dapat memberi teladan bagi orang di sekitar Anda! Tentu, dampaknya akan sangat besar, bila dilakukan dengan sepenuh hati!
Satu sampah tidak akan mencegah kebanjiran, tetapi satu sampah dapat memberi teladan bagi orang di sekitar Anda! Tentu, dampaknya akan sangat besar, bila dilakukan dengan sepenuh hati!
Berkreasi
tidak harus menciptakan sesuatu yang besar, berkreasi dapat dimulai dari hal
kecil, salah satunya adalah dengan menciptakan
budaya buang sampah pada tempatnya!
________________________________________
[1] http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/22/1053289/Ini.4.Penyebab.Banjir.Jakarta
[1] http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/22/1053289/Ini.4.Penyebab.Banjir.Jakarta
[2] http://jakarta.bps.go.id/index.php?bWVudT0yMzA0JnBhZ2U9ZGF0YSZzdWI9MDQmaWQ9MTE=
Bener banget paoo.. 1-2 orang tidak bisa mencegah jakarta dari kebanjiran. Namun 1-2 orang tersebut bisa memberi dampak positif di lingkungan sekitar mereka.. :)
BalasHapusHahaha iya :D yuk budayakan Doktrin Sampah ini :) hehehee
BalasHapus